Fenomena Crespular di langit Sangihe

Pemandangan langit Sangihe 1 Mei 2017
Warga dikejutkan dengan fenomena langkah di Langit Sangihe. Pemandangan langit yang berbeda itu terjadi pada senin 1 Mei 2017 sekira pukul 17.45 wita  gambaran langit yang menyerupai suatu garis lurus seperti senter raksasa yang membelah dari barat ke timur. wargapun tidak menyia-nyiakan momen unik itu dan mengabadikannya pada telepon selular dan mengunggahnya di media sosial. Berbagai tanggapanpun bermunculan. ada yang menghubungkannya dengan Fenomena yang sama di langit Yogyakarta 11 Juni 2010 ketika terjadi gempa, suatu kesamaan memang karena baru saja pada 29 April 2017 terjadi gempa di Sangihe dengan skala yang cukup besar yakni 7,3 SK. Tanggapan warga yang lain adalah dengan memuji kebesaran Tuhan akan karya ciptaaNya.

Menurut Mutoha dilaman Geology hal-hal ilmiah yang dapat dijelaskan pada fenomena ini biasanya disebut crespular ray dan anticrepuscular. Antricrespucular ray terjadi di langit sebelah Timur, sementara crepuscular terjadi sebelah Barat. yang biasanya muncul pada saat matahari terbenam, yakni sekitar pulul 17.30. “ Di luar negeri femomena itu juga sering terjadi. Fenomena yang sama pernah muncul di Florida pada 27 February 2002. Hal sama juga muncul di Thailand pada 2007. Dan semoga fenomena 'langit terbelah di Sangihe ini tidak ada kaitannya dengan gempa yang akan terjadi.
(syarta)

Usaha Ikan Asap Cakalang di Pelabuhan Tua Tahuna

Johanis Patuwo memperlihatkan Fasilitas ICE FLAKE
kepada Pengawas Perikanan Stasiun PSDKP Tahuna
Mentari siang nan terik telah menjadi sahabat yang akrab bagi Om Udu  sapaan akrab  Johanis Patuwo pria yang pekerjaan sehari-harinya adalah pengolah ikan Asap Cakalang (Ikang fufu) di dearah pelabuhan Tua Tahuna ini merupakan salah satu motor penggerak usaha di bidang pengolahan sumberdaya perikanan . Dijumpai disela sela aktifitasnya di kompleks Peltu Sawang bendar Kec. Tahuna Johanis Patuwo mengungkapkan rasa syukurnya bisa mengolah ikan cakalang menjadi ikan cakalang asap untuk dijual dengan nilai yang lebih tinggi apalagi saat ini pemerintah memberikan sumbangan mesin ice flake sehingga usahanya semakin berkembang. 
Usaha Ikan Cakalang fufu (Ikan Asap Cakalang) dan Ikan Fufu Pinekuhe
oleh Kelompok Anugerah pimpinan Johanis Patuwo

Banyak harapan yang terpatri didadanya untuk kabupaten kepulauan Sangihe yang pemerintah nya mengusung Kelautan dan Perikanan sebagai harapan kesejahteraan bagi rakyatnya. Semoga setiap usaha yang dijalankan semakin berkembang dan maju agar kabupaten maritime ini bisa berjaya dengan lautnya yang kaya ungkapnya.

Penulis; Syarta.

5 Tempat Wisata di Sangihe yang Wajib Dikunjungi

Sangihe merupakan salah satu kabupaten kepulauan di Indonesia. Kabupaten ini beribukota di Tahuna. Kabupaten kepulauan Sangihe berbatasan langsung dengan negara tetanggga Philippina. Bagaikan mutiara di ujung utara Indonesia Sangihe memiliki pesona yang menakjubkan.

Berikut 5 Objek wisata yang wajib dikunjungi di Sangihe:

1. Puncak Pusunge
Puncak Pusunge di Kampung Lenganeng
Puncak Pusunge adalah kawasan perbukitan di kampung pusunge lenganeng kecamatan Tabukan Utara Sangihe. Untuk menuju ketempat ini cukup dengan menempuh waktu sekira 30 menit dari Kota Tahuna. Pemandangan pulau Sangihe dapat dilihat 360 derajat. Di bagian utara kita dapat melihat pemandangan gugusan pulau-pulau Tinakareng, sebelah Barat Gunung awu dan pemandangan sunset, sebelah selatan Kota Tahuna dengan teluknya yang indah dan sebelah timur pemukiman kampung Lenganeng. Anda dapat menikmati Hawa sejuk sambil ditemani kopi hangat dengan pisang goreng sambal dabu-dabu khas Sulawesi utara. Puncak indah lainnya: Puncak karuka di Pulau Batunderang, Puncak Malamenggu, Gunung Sahendarumang, Bongkong Sio Sesiwung, Puncak Bango Kahakitang, Bowong Banua Sowaeng dll.
2. Pantai Pananuareng
Pantai Pananuareng

Pantai Pananuareng adalah salah satu pantai favorit dari begitu banyak pantai-pantai cantik yang ada di Sangihe. Pantai ini berlokasi di kampung Tariang baru kecamatan Tabukan Tengah Sangihe. Waktu yang ditempuh untuk menuju ke sini sekira 1,5 jam dari Pusat Kota Tahuna. 

Pantai-pantai cantik lainnya adalah: Pantai Embuhanga, Pantai Kasaraeng, Pantai Bado, Pantai Marahi Salurang, Pantai RiaPantai Kahumata, Pantai Raja, Pantai Daraeng, Pantai SapaengPantai Enggohe, Pantai Angges, Pantai Banala, Pantai Paghulu, Pantai Kapehetang, Pantai Sehang, Pantai Mawira, Pantai Enemanandu, Pantai Desawang, Pantai Apentana, Pantai Pampakilang, Pantai Masing, Pantai Dano, Pantai Mangareng, Pantai Salise, Pantai Lembawua, Pantai Tiude, Pantai Belebirang
Pantai Hiung, Pantai Sororai, Pantai Lantehe, Pantai Mala, Pantai Kahanggaeng, Pantai Mategi, Pantai Dolosan, Pantai Tawarang, Pantai Kalama dll

3. Pulau Mendaku dan Dakupang
Pulau Mendaku
Pulau Mendaku dan Pulau Dakupang adalah dua pulau yang berdekatan dan termasuk dalam wilayah adminstrasi kecamatan Manganitu Selatan Kabupaten Kepulauan Sangihe. Bagi yang gemar Snorkling dan Diving tempat ini menawarkan pesona bawah laut yang sangat kaya. Beberapa wisatawan mengatakan Mendaku adalah Bunakennya Sangihe. Sangihe kaya akan keanekaragaman hayati laut sehingga  banyak Spot diving yang lain yang dapat dikunjungi. antara lain: Gunung api bawah laut Banua Wuhu di Pulau Mahegetang, Spot Pintu Kota yaitu Bekas kapal tenggelam di lokasi pelabuhan Tua Tahuna, Kota yang Hilang di Maselihe kecamatan Kendahe, Napo Para, Napo Nenung, Sea Grass Mahumu, Poa, Liang, Nitu, Kahakitang, Kalama, Bebalang, Batunderang, Nusa, Ruang Nadine di Pulau Bukide, Enempahembang, Lesa, Batuwingkung, Tehang dll.
4. Kawasan Boulevard Tahuna
Sunset di Boulevard Tahuna

Boulevard Tahuna adalah suatu kawasan jalur alternatif berupa jalan raya samping pantai yang menawarkan pesona teluk Tahuna. Barisan rumah makan menawarkan aneka jajanan terlihat di kawasan ini. Bagi yang suka Seafood ikan bakar dabu-dabu kangkung Cah.. Boulevard Tahuna adalah tempatnya. Rumah makan yang menawarkan ikan bakar Sea food antara lain; RM. Selera Bahari, RM. Tepi Laut, RM. Sunset dan RM. Paradise. Aneka jajanan berbagai jenis juga terdapat di kawasan kuliner ini. Disore hari tinjauan Sunset yang sempurna menjadi konsumsi harian yang romantis. dan di pagi hari dapat menjadi arena joging dengan melewati ikon jembatan Boulevard muara Towo'e dan pelabuhan terapung.

Kuliner khas Sangihe yang patut dicoba: Mie Che, Kabola, Ongol-ongol, Karame, Tapopol, Sayor luhu, Sagu dange with Ikan bakar, Kuah Asam,Pisang Goroho, Bagea, Bangket, kue Gulung/Kipas, Babengka, Paporcis, Bahundak , Namu-namu, Lunggi-lunggi, Sagu Porno campur Kelapa with Gula Merah, Panada Ubi dll
5. Air Tejun Sura Kakewang

Air Terjun Sura Kakewang

Bagi yang suka petualangan dan wisata alami Air Terjun. Sura kakewang adalah destini yang wajib dikunjungi. Lokasi air terjun di berada di kecamatan Kendahe Sangihe. dari jalan raya kita harus melewati perkebunan dengan durasi tempuh sekira 1 jam.Dikecamatan Kendahe juga terdapat Air tejun Pempanikiang yang memiliki karekateristik yang mirip namun memiliki keindahan tersendiri. 

Air terjun lain yang tak kalah menarik adalah Air Terjun Kadadima, Air Terjun Basauh, Air terjun Batuputih, Air Terjun Bala Apapuhang, Air Terjun ngurah lawo, Air Terjun KauhisAir Terjun PuirangAir Terjun Mangki, Air Terjun Tedunang, Air Terjun Mandoi, Air Terjun Malisade  dll.

Oleh: Syarta

Mengunjungi Sulawesi Utara (Manado dan Tahuna)

Kali pertama dalam hidup saya mengunjungi Manado. Sesampai di Bandara Sam Ratulangi, disambut dengan cuaca yang lumayan panas, rasanya lebih panas dari Jakarta. Waktu perjalanan menuju hotel tempat saya menginap ada yang menarik perhatian. Kendaraan saya melewati sebuah angkot yang musiknya sangat keras. Saya tanyakan ke Pak Sopir, kenapa angkot harus memasang musik sekeras itu? Jawabannya, "Bu, di sini kalau angkot tidak ada musiknya penumpang kurang suka. Semakin keras semakin diminati". O.o, jawaban yang lucu :) Agak bingung juga sih, bagaimana jika penumpangnya mau turun, harus berteriak atau ketok-ketok? Hmm... harus dicoba angkotnya (dalam batnku).

Malam harinya walau terasa pegal-pegal seusai survey dan melaksanakan pekerjaan, saya paksakan diri untuk naik angkot, sekalian cari makan malam. Naiklah saya, ternyata angkot tidak hanya full music tetapi di malam hari juga dilengkapi oleh lampu warna-warni. Haha, serasa sedang di disco berjalan!! Jika kita naik angkot di Jakarta, tempat duduknya berhadapan. Di Manado, tempat duduk angkotnya menghadap ke depan semua. Terus terang rasanya lebih nyaman, lebih manusiawi karena penumpang yang akan naik angkot ditunggu sampai benar-benar duduk, demikian pula jika akan turun. Beda dengan Jakarta, jika kita turun baru kaki sebelah menyentuh aspal, angkotnya sudah bergerak jalan, tidak peduli yang turun orang tua atau ibu hamil.


Selama perjalanan saya mengobrol dengan sesama penumpang. Sampailah pada kesimpulan orang-orang Manado sangat menyukai pesta. Bahkan pada saat ada tetangga, kerabat, atau saudara yang meninggal, tetap saja ada pesta, istilah mereka adalah malam penghiburan. Pada saat itulah para tamu akan disuguhkan minuman, yang salah satunya adalah minuman "Cap Tikus", yaitu semacam tuak. Jika tuan rumahnya tidak menyiapkan akan dibawakan oleh keluarga atau tetangga. Artinya, dalam keadaan apapun, dimana ada orang Manado berkumpul, disitulah ada PESTA :).


Keesokan harinya saya menyeberang ke Tahuna yang berada di kepulauan Sangihe Talaud. Untung penerbangan tepat waktu dan cuaca cerah. Kalau tidak, keberangkatan bisa ditunda atau dibatalkan, yang artinya harus menunggu 2 hari lagi (hari itu Selasa, penerbangan hanya Selasa dan Kamis) atau naik kapal cepat yang memakan waktu sekitar 8 jam.

Setiba di Tahuna, Bandara Naha tepatnya, saya sudah menghubungi orang Tahuna. Jika tidak, rasanya saya akan balik lagi ke Manado karena di bandara tidak ada taksi atau kendaraan umum lainnya. Tak terbayangkan jika tidak ada yang menjemput, mau jalan kakipun tidak tahu akan kemana. Untuk menuju Kota Tahuna memakan waktu sekitar 1 jam dengan jalan yang berkelok-kelok. Sepanjang jalan saya melihat-lihat pemandangan yang masih asri, mayoritas tampak pohon kelapa. Tampak juga pohon pisang, banyak yang sudah berbuah tapi belum ada yang ambil. Kata teman saya, di Tahuna sangat mudah mendapatkan sumber makanan, mau sayur tinggal petik, mau ikan tinggal mancing, sehingga masyarakat asli Tahunanya sendiri cenderung agak malas. Biasanya yang berhasil dan sukses adalah warga pendatang.

Disini ada angkutan umum yang tidak kalah uniknya, yaitu bentor (becak motor, 'n' nya dari mana ya?). Naik bentor gak beda dengan naik angkot di Manado, musiknya gak kalah kerasnya. Kita pun bisa minta lagu, loh. Dan lagi-lagi saya tidak melepaskan kesempatan untuk mencoba bentor, dan hasilnya kuping jadi sedikit tuli, volume musik tidak kalah kerasnya dan speaker diletakkan pas dibelakang kepala penumpang, sesama penumpang jika ingin ngobrol harus teriak-teriak. Tetap hal itu menjadikan pengalaman tak terlupakan.

Masyarakat di Tahuna mayoritas beragama Islam dan Kristen, tetapi yang menakjubkan adalah mereka satu dengan yang lainnya saling menghormati dan rukun. Pada saat Lebaran, sepanjang Jalan Tidore, Tahuna berjejer meja-meja yang terdapat ketupat berikut sayurnya. Siapapun yang lewat sana, mau Islam atau non-Islam dipersilahkan untuk makan tanpa dipungut bayaran. Semua itu disiapkan oleh warga Islam, sudah merupakan budaya mereka dan sampai sekarang masih berlaku.

Saat berbincang dengan penduduk asli Tahuna, saya menanyakan bagaimana jika ada provokator yang ingin mengacau. Dengan santai dijawab, "jika ada provokator, belum melakukan apa-apa kami semua yang akan maju, tidak adalah provokator yang berani mengacau di sini".


Saya berharap hal ini akan berlaku sampai kapanpun, karena pada dasarnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang rukun dan saling menghormati tanpa memandang SARA.



Ditulis oleh Mira I.
30 Oktober 2012

Festival Pesona Sangihe 2016


Gelaran festival Tahunan untuk mempromosikan Wisata di Sangihe akan digelar awal Bulan september ini. di jalan-jalan KOTA TAHUNA sudah diramaikan dengan baliho dan spanduk publikasi. isi dari Publikasi antaralain:

Saksikan dan Sukseskan Festival Pesona Sangihe
Di Dermaga Apung Kota Tahuna pada 05 s/d 10 Sepetember 2016
Senin 5 September 2016
Kirab Budaya & Pawai Pembangunan
Pameran Pembangunan
Pelepasan Penyu ke Alam Bebas Bersama Satker PSDKP Tahuna
Lomba Perahu Layar Tradisional (Me’Senggo)
Lomba Tarik Tambang di Air
Lomba Musik Bambu
Selasa 6 September 2016
Pameran Pembangunan
Lomba Masamper Perempuan & Laki-laki
Rabu 7 September 2016
Pameran Pembangunan
Grand Final Pemiihan Ungke dan Momo Sangihe 2016
Kamis 8 September 2016
Pameran Pembangunan
Lomba Mancing Tradisional
Jumat 9 September 2016
Pameran Pembangunan
Lomba Ampa Wayer
Sabtu 10 September 2016
Pameran Pembangunan
Bakar Ikan Massal

Bendera Setengah Tiang



Blog KOTA TAHUNA. Situasi politik menjelang Pilkada tahun 2017 sudah menampakan wajahnya. hal ini dapat dilihat dari partai politik penguasa "Banteng Moncong Putih" yang terbelah. Tampak di ruas-ruas jalan KOTA TAHUNA bendera parpol PDIP yang dipasang Setenga tiang. Isi pesan yang mau disampaikan adalah adanya kader partai yang berdukacita karena Ketua DPC yang notabene adalah Wakil Bupati tidak diakomodir sebagai Bakal Calon Bupati. Salah satu simpatisan partai yang tidak mau membeberkan identitasnya mengatakan Banyak dari antara mereka yang mendukung Ketua DPC PDIP Sangihe untuk menjadi Bupati Kepulauan Sangihe. (syarta)

ILHAM HIMAWAN: MASIH BERTANYA DIMANA ITU KEPULAUAN SANGIHE?

Berlayar menuju Tahuna – Kepulauan Sangihe

Selamat Pagi Manado, dan kami berharap keselamatan dalam perjalanan menuju ke Tahuna.  Jam 7 tepat saya dan salah rekan saya @Andist menyusuri jalan kota menuju pelabuhan. Kapal Express Bahari sudah menunggu kami, jadwal keberangkatannya masih 3 jam kemudian. Hiruk pikuk warga di Pelabuhan cukup membuat saya merasa nyaman, terlebih jika saya membandingkan pelabuhan di Makassar ataupun di Flores yang para porternya kadang tidak terkendali dan sering memaksa untuk membawa barang penumpang. Atau mungkin karena setiap kapal memiliki gerbang pembatas sendiri di Pelabuhan?, dan pelabuhan baru sedang dalam pembangunan. Menurut info, kapal Express Bahari kategori kapal cepat dengan waktu tempuh maksimal 8 jam (wow segini dibilang cepat?), lain halnya jika kita berangkat kapal yang lebih besar dimalam hari dengan waktu tempuh mencapai 12 jam.
Saya menempati ruang VIP dengan harga tiket Rp. 225.000 dengan fasilitas tempat duduk yang empuk dan nyaman. Sangat mirip berada di kabin pesawat, iya benar! model tempat duduknya bekas pesawat. Saya duduk paling depan, tepat dihadapan layar TV LCD 42 inch dilengkapi sound systemyang apik dan satu lagi, AC standing floor. Suhu ruangan terlalu ekstrim untuk manusia, dinginnya seperti diruangan perangkat. Toiletnya bersih, dan sesekali saya bisa mengakses ruang kemudi untuk melihat pemandangan ke depan kapal disamping nahkoda.
Setelah 2 kali tidur siang, 1 kali makan siang, 2 kali disuguhi film namun yang satunya berbahasa Perancis yang terjemahan dan aksi pemainnya tidak nyambung jek! Alhasil, film thriller tentang Afganistan menjadi film komedi.
Sebelum mencapai Tahuna, kapal kami singgah dibeberapa dermaga disetiap pulau besar yang dilalui, Pulau Tagulandang, kemudian Pulau Siau dan rute ini berakhir di Tahuna yang merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Sangihe/Sangir Talaud. Namun karena pemekaran daerah, Pulau Siau dan Tagulandang masuk dalam area Kabupaten SITARO (Kepulauan Siau Tagulandang Biaro).
Masih bertanya dimana itu Kepulauan Sangihe? Paling utara Indonesia dan berbatasan antara Kepulauan SITARO dan Kepulauan Mindanao – Philipina. Apakah ini Pulau paling utara Indonesia? Belum, karena masih ada pulau kecil bernama Miangas disana. Pulau yang terbentuk dari karang yang muncul dipermukaan.
Pulau Sangihe juga memiliki banyak gunung api selain yang ada dibawah laut, Anda yang biasa menggunakan mode angkutan laut pasti mengenal KM. Awu. Yah nama kapal yang diambil dari nama gunung di Sangihe.
Oke dang! Torang so tiba di Tahuna jam 5 petang *automatic switch language mode ON*, kami dijemput dengan mobil pick-up dan diantar untuk menginap disalah satu rumah dinas yang sudah tidak berpenghuni setahun terakhir, namun masih bersih rapi. Sepanjang perjalanan saya duduk dibelakang pak sopir yang sedang mengemudi, mengendarai pick-up supaya baik jalannya *loh kok nyanyi?*…
Kota Tahuna terbilang cukup bersih, typical daerah pesisir, mayoritas mata pencarian masyarakat adalah nelayan. Saya awalnya kaget, apakah saya tidak salah berlabuh disebuah pulau yang mengibarkan banyak bendera Negara Uni Eropa dimana-mana? Tidak mungkin saya hanya berlayar 8 jam namun telah telah tiba di Benua Eropa. Ternyata euphoria EUFA terasa disini, kibaran bendera besar yang warnanya masih terang mengingatkan saya apakah 17an nanti Bendara Negara kita juga berkibar semegah ini? Apakah mereka rela menyogoh kocek lebih untuk membeli bendera negera sendiri yang mungkin sudah usang, agak robek, yang jadi koleksi beberapa tahun lalu?. Saya yakin nasionalisme tidak selalu berbentuk kibaran bendera, tapi masih tertanam dilubuk hati mereka.
Tidak jauh jarak dari pelabuhan dengan rumah dinas. Menempati tempat yang baru biasanya yang pertama saya lihat adalah kamar mandi, apakah cukup baik auranya untuk membuat saya nyaman berlama-lama disana? *saya tertawa sejenak* melihat wc jongkok yang dimodifikasi. Ada penambahan tinggi permukaan tempat kaki berpijak, kebayang dong, berapa lama waktu tempuh ‘buangan’ untuk tiba dilubangnya. Selama masih ‘atos’ sih gak masalah, nah kalau lagi bermasalah?…tercecer choy!
Malam pun tiba, sama seperti beberapa kota kecil di Flores, semakin malam semakin anda sulit menemukan warung makan. Toko-toko akan cepat tutup. Untuk mencari makanan yang ‘aman’, kami diantara ke warung Malioboro di Kec. Sawang Bendar.
Nah, seperti yang saya katakan sebelumnya, ada banyak kesamaan dengan Flores disini. Hampir tidak ada perbedaan kultur antara Sangihe dan Flores. Jumlah tumpukan nasi dipiringnya juga sama banyaknya. Oh iya sebelum berangkat, teman saya @Andist membeli sarapan kue tradisional namanya cucur, saya jadi semakin tidak tahu asal muasal kue ini, ada di Manado, Makassar dan juga Flores.
Meninggalkan warung, saya banyak mendengarkan cerita rekan saya tentang perilaku masyarakat di Tahuna. Dalam berkendara, mereka terbilang tertib. Penumpang diwajibkan berhelm. Tapi kecelakaan lalu lintas masih sering terjadi, tidak lain penyebabnya sama di Flores yaitu miras. Kalau di Flores kita mengenal miras lokal dengan nama Sofi dan Moke bening hasil penyulingan dan konon katanya mudah terbakar jika disulut api, di Sangihe miras lokalnya bernama Saguer dalam bahasa Sangir atau bahasa umum disebut Sipa dengan kadarnya setara tuak biasa.

IBUPENYU: MENDADAK KE SANGIHE GUE BARU TAHU



Once a year, go someplace you’ve never been before – Dalai Lama
Pulau Mandaku, Sangihe
Pulau Mandaku, Sangihe
Biasanya, kegiatan main ke tempat baru yang tidak direncanakan akan terjadi pada akhir tahun. Tapi tidak untuk 2015 ini, gue pergi ke tempat baru di awal tahun dan hanya berselang 2 minggu setelah main ke tempat baru di akhir 2014. Alhamdulillah.
“Pink, akhir Januari ke mana? Diajak ke Sangihe nih, mau?”
“HAH? beneran? MAU!” gue menjawab tanpa pikir panjang dan tanpa basa-basi
“ok. Gue iya-in ya ini. Paling untuk seminggu, nanti kita extend aja kalau merasa kurang”
“sip. i’m in”
Iya, pergi ke Sangihe ini terjadi begitu saja dan gue bahkan nggak melihat tiket pesawat sampai menjelang hari keberangkatan😀 Gue bahkan nggak tau akan ngapain aja selama 8 hari di sana, yang gue tau cuma ada rangkaian pekan budaya dan ditutup dengan upacara Tulude. Browsing sana-sini juga nggak nemu informasi apa pun mengenai Sangihe. Ya sudahlah, packing dan bawa baju lebih banyak dari biasanya dan menuju ke bandara di malam hari.
Perjalanan ke Sangihe ini bikin ngantuk deh. Di mulai dengan penerbangan dari Jakarta menuju Manado pada pukul 1.30 dini hari dilanjutkan dengan penerbangan ke Naha pada pukul 7 pagi, asiknya, pukul 8 pagi sudah tiba dong di bandara Naha, Sangihe. Wohoooiii… Let’s start the adventure!
Sangihe_gadis sangihe
Sebelum berangkat, gue hanya tahu 2 hal dari Sangihe: 1.) Sangihe adalah salah satu pulau terdepan Indonesia; 2.) Ada underwater volcanonya! Nah, selama 8 hari di Sangihe akhirnya gue jadi tau banyak mengenai kabupaten kepulauan ini:
1. Gue baru tahu kalau nama yang benar adalah Kabupaten Kepulauan Sangihe dan ibu kotanya adalah Tahuna. Sekarang ini Kab. Kep. Sangihe sedang dalam proses pemekaran wilayah demi mengajukan diri menjadi sebuah provinsi sendiri.
2. Jalanan di seluruh penjuru pulau bagus! bahkan lebih bagus daripada jalanan menuju ke rumah gue.
3. Pisang goreng sambal dabu/roa di hampir semua restoran itu enak-enak.
4. Buanyak spot wisata di Sangihe yang tersebar di penjuru kabupaten dan masih mentah banget, mulai dari hutan, air terjun, pantai, dan spot lainnya😉
5. Spot menyelamnya keliatannya cukup banyak dan belum semuanya tereksplor dengan baik.
6. Tingkat kejahatan di seluruh kabupaten 0% dan tingkat kerukunan antar umat beragamanya terjalin dengan manis.
7. Satu minggu setelah Lebaran, akan ada 1 hari di mana umat muslim di kampung Tidore akan menggelar acara makan bersama. Siapa pun boleh datang dan makan. Seru!
8. Di bulan Januari setiap pukul 2 siang mataharinya nyelekit banget panasnya😀
9. Meski Sangihe bisa dibilang pulau terdepan Indonesia, ternyata, masih ada pulau lainnya yang lebih depan dan dijadikan ‘border crossing’ sayangnya menuju pulau ini tidak mudah😦
10. Meski kepulauan tapi tidak mudah untuk menemukan pantai dengan pasir putih di sini, mungkin karena ada gunung api?
11. Tahuna berada di sebuah teluk yang kalau di lihat dari ‘puncak’ sangatlah keceeeeeee…
12. Tidak ada kegiatan apapun pada hari Minggu di seluruh Sangihe! Ya, aktivitas baru mulai ada lagi setelah pukul 3 sore.
13. Nggak usah khawatir dengan dunia perbankan. Ada 4 bank di sana dengan beberapa ATM tersebar di berbagai tempat.
14. Listrik dan signal HP lancar jaya :)))
sunset dari puncak pusunge
sunset dari puncak pusunge
Awalnya gue nggak ngerti mesti ngapain selama di sana, tapi setelah dilalui dan kembali ke Jakarta kemudian baru gue sadar bahwa hidup di Sangihe tampak mudah dan menyenangkan😀 Terus, apakah gue mau kembali ke Sangihe? mungkin… Ada beberapa tempat yang masih pengen gue eksplor sih, tapi ya nggak tau juga deh…
SUMBER: https://ibupenyu.com/2015/02/03/mendadak-ke-sangihe/

VINO: Trip Tahuna IMAJINASI YANG INDAH

Exotic Trip Tahuna, Manganitu & Matako at Sangihe Island, Indonesia


Warga Tahuna biasanya menyebut dengan nama Peltu atau singkatan dari Pelabuhan Tua. Bangunan berupa bekas mercu suar adalah salah satu ikon dari Kota Tahuna.

Dimanakah Tahuna?
Adalah ibu kota Kabupaten Sangihe, yang terletak di Utara dari Propinsi Sukawesi Utara. Letaknya sekitar 250 km.




Menuju Tahuna bisa ditempuh dari berbagai cara:
1Kapal Feri dari Pelabuhan Bitung atau Likupang perjalanan kurang lebih 24 jam
2. Kapal penumpang dari Pelabuhan Manado, perjalanan sekitar 12 jam
3. Kapal Cepat dari pelabuhan Manado, perjalanan 6 jam
4. Pesawat Terbang, 2 hari 1 kali. Sampai hari ini hanya Wings Air dari Manado


Kami memilih dengan penerbangan, untuk tiket menuju Tahuna maka nama tujuan adalah Naha (nama airport di Pulau Sangihe). Penerbangan sekitar 40 menit saja.

Pada entri ini adalah bagian 1 dari perjalanan di Pulau Sangihe atau banyak orang bilang Pulau Sanger. Perjalan entri 1 adalah perjalanan ke arah Selatan.

Naha
Naha adalah airport yang terletak di sebelah Utara kota Tahuna. Perjalanan dari dari Naha menuju Tahuna melalui punggung2 bukit & pegunungan selama sekitar 1 jam.



Landasan airport Naha dari udara





Airport Naha sangat sederhana, tetapi cukup tertib & baik. Dengan atap seng & lingkungan yang sangat sederhana.






Tahuna
Kabupaten Sangihe beribukota Tahuna, terletak di Teluk Tahuna. Secara geografi sangatlah aman dari terjangan gelombang yang besar.


Tahuna dalam bahasa sasahara disebut juga Malahasa. Menurut cerita berasal dari kata Tahuena, yang artinya keberpihakan seorang pemimpin karismatik. 




Dahulu kota terletak di Kolongan, suatu waktu datanglah pemimpin yang karismatik, Raja Tatehe Woba (artinya: pengering laut). Dia berhasil mengeringkan air laut dari Teluk Tahuna, sehingga dari daratan yang kering itulah yang sekarang disebut dengan Kota Tahuna, pemerintahan pindah dari Kolongan ke Tahuna

Raja Tatehe Woba memerintah tahun 1580-1625, dia memperjuangkan Tahuna menjadi tempat yang damai & bersatu.

Boulevard Tahuna
Di Kota Tahuna telah dibangun boulevard yang nantinya akan menjadi jalan sepanjang pantai Kota Tahuna. namun saat kami tiba disana jalan bolevard belum digunakan sebagai jalan, sehingga digunakan untuk menjemur ikan & cengkih (saat itu sedang panen raya). Foto2 di bawah ini merupakan pemandangan di sekitar boulevard Tahuna








Perbukitan disisi seberang dari Boulevard Tahuna, dengan air yang sangat jernih.


Pananaru
Pananru adalah pelabuhan khusus Kapal Ferri, sangat disayangkan saat kami tiba disana hujan sangat lebat, sehingga hanya bisa kami foto dari dalam kendaaan.




Manganitu
Pantai Pendera Hokang, itulah namanya, Terletak di dekat Manganitu. Di pantai terdapat batu2 besar & beberapa perahu nelayan yang bersiap melaut. Pantai2 di sebelah Selatan Pulau Sangihe rata2 berpasir putih.



Di seberang Pantai Pendera Hokang terdapat pulau kecil, yang disebut dengan Pulau Selenggohek.







Sepanjang perjalanan kami banyak menemui panenan cengkeh yang sedang dijemur, karena sedang musim panen cengkeh di seluruh Pulau Sangihe. Cengkeh inilah yang menghidupkan tingkat ekonomi masyarakat Sangihe, atau biasa juga disebut Sanger.





Manganitu dahulu adalah pusat sebuah kerajaan yang diperintah oleh sebanyak 17 raja. Makna kata Manganitu sendiri dari bahasa sasahara: Maubungang. Yang artinya: gumpalan asap rokok sang raja Tompoliu yang menutupi Teluk Manganitu. Raja Tompoliu memerintah Manganitu mulai 1645-1670.
Hal ini karena pada saat ada serangan dari VOC & kerajaan lain, maka musuh akan tidak dapat melihat karena adanya awan yang melingkupinya. Sehingga terhindar dari perang.




Adapun sungai yang jernih ini disebut dengan Sungai Marangkak & pulau yang ada di muara sungai, orang Manganitu menyebut dengan Pulau Bukide.

Tamako
Kota Tamako adalah kota terbesar kedua setelah Tahuna. Kata Tamako sendiri dalam bahasa Sangihe atau Sanger adalah Kapak. Kota ini terletak di Selatan dari Tahuna.



Pada zaman dahulu, sekitar tahun 1575 terjadi perkelahian antara raja yang keji dari Kerajaan Tabukan yang bernamaWawengehe melawan seorang ksatria dari Pulau Siau yang bernama Hengkeunaung yang dibantu Ambala Makaampo dari Tamako.

Mereka berhasil mengalahkan raja keji itu dengan kapak sakti, dan setelah perkelahian dimenangkan maka kapak diserahkan Ambala Makaampo pada Hengkeunaung. Tempat penyerahannya disebut dengan Mantelagheng yang disamakan dengan Tamako




Sungai yang jernih digunakan sebagai sarana transportasi penduduk setempat.



 


Dengan jalan naik & turun yang sangat curam, disertai tikungan2 tajam. Perjalanan ke arah Selatan dari Tahuna sampai dengan Tamako telah selesai, dan memberikan suatu Imajinasi yang sangat indah.